Nurul Ulfi Alfath

Sabtu, 28 April 2012


HERBARIUM
A.       DEFINISI HERBARIUM

Herbarium adalah kumpulan tumbuhan kering yang dipress dan ditempelkan pada lembaran kertas, biasanya kertas manila yang menghasilkan suatu label dan data yang rinci serta disipan dalam rak-rak atau lemari besi dalam urutan menurut aturan dimana herbarium itu disimpan. Atau dengan kata lain Herbarium merupakan tempat penyimpanan contoh koleksi spesimen tanaman/tumbuhan yang telah diawetkan dengan cara-cara khusus.
Herbarium sangat penting untuk digunakan dalam pekerjaan taksonomi, sebagai pengelompokan suatu hal berdasarkan hierarki tingkatan tertentu. Di mana taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum dan taksonomi yang lebih rendah bersifat lebih spesifik terkait misalnya jenis tanaman atau daun.(1)
Herbarium merupakan suatu bukti autentik perjalanan dunia tumbuh-tumbuhan selain berfungsi sebagai acuan identifikasi untuk mengenal suatu jenis pohon. Istilah Herbarium adalah pengawetan specimen tumbuhan dengan berbagai cara.untuk kepentingan koleksi dan ilmu pengetahuan.
Koleksi specimen herbarium biasanya disimpan pada suatu tempat yang diberi perlakuan khusus pula yang dikenal dengan laboratorium herbarium. Para ahli-ahli botani menyimpan koleksi herbarium mereka pada pusat-pusat herbarium di masing-masing Negara. Di Indonesia pusat herbarium terbesar terdapat di Herbarium Bogoriense Bidang Botani, Puslit Biologi-LIPI berada di wilayah Cibinong Jawa Barat. Laboratorium ini menyimpan lebih dari 2 juta koleksi herbarium yang berasal dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia dan dari berbagai Negara di dunia.
Spesimen yang tersimpan di gedung ini ada diantaranya sudah berumur ratusan tahun, terbukti pada label tempel tertulis tahun pembuatan 1823 yang berarti specimen tersebut diabuat tahun 1923 dan dilengkapi pula dengan lokasi pengambilan spesimen. Lokasi tempat pengambilan spesimen tersebut kemungkinan sekarang telah beralih fungsi menjadi fungsi lain seperti perkebunan, pemukiman, perkantoran atau bentuk lain(2)


(1)       tribun news.com www
(2)       www.Badikhut.com (balai pendidikan dan pelatihan kehutanan Makassar)


B.       TIPE-TIPE HERBARIUM

Berdasarkan cara pengawetannya, herbarium di golngkan menjadi  pengawetan kering maupun pengawetan basah, yang akan dijelaskan sebagai berikut:

·         HERBARIUM  KERING
Herbarium ysng cara pengawetannya dengan cara dikeringkan.  sebagian besar  specimen herbarium yang disimpan sebagai awetan dalam herbarium-herbarium di dunia ini diproses melalui pengeringan. Pengeringan biasanya dilakukan dengan sinar matahari, kecuali bila ada pertimbangan-pertimbangan lain misalnya keadaan cuaca. Pada musim penghujan, pengeringan tidak dapat berlangsung cepat , sehingga bahan yang dikeringkan kadang-kadang terganggu oleh jamur. (3)

·         HERBARIUM  BASAH
Yang dimaksud dengan herbalium basah adalah spesimen tumbuhan yang telah diawetkan dan disimpan dalam suatu larutan yang dibuat dari berbagai macam zat dengan komposisi yang berbeda. disamping itu dapat pula ditempatkan zat-zat lain untuk tujuan-tujuan tertentu, untuk sejauh mungkin mempertahankan warna asli bahan tumbuhan yang diawetkan. adapun bahan awet yang digunakan adalah formalin.
(3)       Bahan ajar farmakognosi : 10

C.       CARA PEMBUATAN HERBARIUM
Pengumpulan Material
Kumpulkan bahan tanaman yang akan dibuat Herbarium     Siapkan koran dan tempelkan bahan Bersihkan tanah yang menempel pada akar tanaman                     tanaman di atas koran

 








Pengumpulan tanaman yang sudah ditempel pada               Penindihan tanaman dengan benda                         kertas Koran                                                               berat dan rata

                                                                                Herbarium Siap Dipindahkan dan Dilengkapi dengan Data Pendukung


Material herbarium yang diambil harus memenuhi tujuan pembuatan herbarium,yakni untuk identivikasi dan dokumentasi. Dalm pekerjaan identifikasi diperlukan ranting, daun, kundcup, kadang-kadang bunga dan buah, dalam satu kesatuan. Materium hebarium yang lengkap mengandung ranting, daun muda dan tua,kuncup, bunga muda dan tua yang segar, serta buah muda dan tua. Materi hebarium dengan bunga dan buah jauh lebih berharga dan bisa disebut herbarium fertile, sedang material herbarium tanpa bunga dan daun disebut herbarium steril
Untuk keperluan dokumentasi ilmiah dianjurkan untuk membuat materi herbarium fertil dan untuk setiap nomor koleksi agar dibuat beberapa spesimen sebagai dupliakat. (3 spesimen atau lebih per nomor koleksi).
Material herbarium dari pohon berdiameter besarmaupun kecil agar dipilih ranting yang berbunga dan berbuah. Apabila hal ini suliit dilakukan, cukup diambil ranting dengan daun-daun dan kuncup utuh dalam satu kesatuan. Material herbarium dari tumbuhan terna, dan rumput-rumputan, datang dan daunnya harus dikimpulkan pula. Demikian pula halnya dengan bambu, material herbariumnya tidak berupa ranting dan bunga, tetapi ruas batang dan pelepahnya harus disertakan pula.
Material herbarium rotan sangat sulit dikumpulkan karena selain berdaun majemuk berisip yang panjang lebih dari 1 meter, bahkan ada yang mencapai 4 meter (termasuk sirus), misalnya rotan manau, harus disertakan pula batang dan pelepah yang banyak durinya itu. Beberpa senis rotan tidak memeiliki sirus diujung daun, namun mempunyai salur berduri pada bagian pelepah yang disebut flagel yang panjangnya mencapai 5 meter, seperti pada rotan kesur.
Selain material herbarium harus lengkap, perlu diperhatikan pula bahwa pada saat pengambilan material herbarium harus dilakukan pula pencatatan data tumbuhan. Terutama karakter/sifat yang akan hilang akan diawetkan. Material herbarium tanpa catatan tmbuhannya dianggap sangat tidak ada artinya. Pencatatan gata tumbuhan dengan dengan menggunkan buku catatan atau blanko isian/tally sheet(lampiran 1).
Bersama dengan pencatatan identitas tumbuhan tersebut, perlu dengan segera dibuat pula label ganting yang diikat pada material herbariu. Satu label untuk satu specimen. pada setiap label gantung ditulis kode(singkatan nama) kolektor (pengumpul), nomor koleksi, nama lokal (daerah) tumbuhan yang dikumpulkan, lokasi pengumpulan, dan tanggal. Dianjukan untuk penulisan pada label gantung tersebut mengunakan pensil, supaya tulisan tidak larut bila kena siraman alcohol atau spiritus.
(4)Teknik pembuatan herbarium (onrizal, prodi kehutanan,
 FP universitas Sumatra utara)

PEMBUATAN HERBARIUM
@   HERBARIUM  KERING

Adapun cara untuk mengambil spesimen dan mengawetkannya adalah sebagai berikut :

a.       Mengambil spesimen selengkap mungkin, kemudian data-datanya dicatat selengkap mungkin karena nantinya bagian-bagian tersebut akan berubah warnanya menjadi coklat jika sudah kering. Untuk spesies yang berbunga, diambil dalam jumlah yang banyak, karena nantinya dapat dibuat duplikatnya.
b.      Spesimen ditata di antara kertas koran, penataan tersebut harus mewakili sebagian besar bagian tumbuhan. Misal untuk bagian daun maka harus ada bagian atas dan bagian bawah yang terlihat.
c.       Spesimen diberi label dengan etiket gantung menggunakan pensil agar tidak hilang atau luntur yang bertuliskan nama specimen kolektor tanggal.
d.      Kertas koran yang telah berisi spesimen dimasukkan dalam plastik besar dan disiram dengan alkohol 70% atau spirtus agar tidak membusuk dan daunnya tidak mudah rontok.
e.       Kantong plastik diikat dengan kuat selama proses pengeringan, agar alkohol atau spirtus tidak menguap.
f.       Proses pengepresan dengan menggunakan sasak atau menggunakan papan kayu yang diantaranya diberi kardus dan seng bergelombang agar panasnya merata dan spesimen tidak menjadi rusak dan rata.
g.      Pengarangan / pengeringan di dalam oven. Untuk pengarangan ini dilakukan dua macam. Ada yang dengan menggunakan oven arang dan ada pula dengan oven listrik. Untuk oven arang suhunya tidak tentu karena hanya berdasarkan banyaknya arang dan suhunya tidak dapat diukur. Dalam sehari bisa menghabiskan tiga karung arang. Dan untuk yang menggunakan oven listrik menggunakan suhu pemanasan 60°C -70°C.
h.      Spesimen yang sudah kering dilengkapi datanya dari lapangan (kolektor) yang meliputi nama ilmiah, nama daerah, tempat koleksi dan catatan-catatan yang diperlukan sebagai penjelas. Misalnya warna asli dan habitus pada etiket tempel. Jika kolektor sudah meninggal, atau label sudah rusak, atau pada herbarium tersebut tidak dicantumkan kolektor maka dapat melihat pada buku lapangan yang beliau tinggalkan.
i.        Penempelan Spesimen yang sudah dikeringkan selanjutnya ditempel dikertas acid free. Penempelan spesimen menggunakan isolatip khusus, Isolatip tesebut hanya dapat menempel pada kertas acid free bila isolatip tersebut dipanaskan menggunakan pemanas yang berbentuk seperti solder. Hal ini memudahkan pada saat proses remounting karena isolatip tidak menempel langsung pada specimen, selain itu isolatip khusus ini lebih tahan lama dari pada isolaip biasa.
j.        Remounting. Proses remounting merupakan proses penempelan ulang spesimen yang sudah sangat lama atau hampir rusak. Pada proses remounting, dibagian bawah kertas diberi tanggal specimen tersebut diremounting. Pada herbarium kering, revisi nama specimen ditempatkan pada kertas kecil dan ditempelkan di atas label asli. Apabila collector ragu-ragu terhadap data yang ada, maka diberi tanda tanya.
k.       Penyimpanan di lemari pendingin pada suhu –20oC selama seminggu. Hal ini untuk mencegah dari gangguan serangga. Sebelum menggunakan pendingin, untuk menghindari serangan serangga, awalnya menggunakan HgCl2. Namun, dihentikan karena sangat berbahaya.
l.        Spesimen yang telah lengkap dimasukkan dalam amplop/folder bag yang berwarna untuk genus, coklat untuk spesies dan putih untuk spesies yang sama atau warna coklat untuk asal pulau yang sama.. Kemudian dimasukkan di lemari penyimpanan. Untuk penyimpanan herbarium dilakukan secara alfabetis urut dari nama family (A-Z) kemudian genus (A-Z) selanjutnya spesies (A-Z) agar memudahkan dalam pencarian datany.(5)
(5)dewangga™. Harmony of Art, Culture and Technology

@  HERBARIUM  BASAH
Pada spesimen buah atau bunga yang memiliki bentuk yang tebal dan tidak memungkinkan dilakukan dengan pengawetan dengan cara koleksi kering maka dilakukan koleksi basah. Larutan umum yang dipakai dalam koleksi basah adalah alkohol 95% sebanyak 3500 ml (70 %) dan aquades 1500 ml (30%) sehingga total larutan keseluruhan adalah 5000 ml. sedangkan untuk larutan blangko terdiri dari alkohol 95% sebanyak 3100 ml (62%) , aquades 1050 ml (33) , dan gliserin 250 ml (5%). Spesimen yang diawetkan kemudian dimasukkan dalam toples kaca. Ukuran toples disesuaikan dengan besar kecilnya spesimen yang diawetkan. Pada spesimen tertentu, kandungan alkohol akan berubah, sehingga harus dilakukan penggantian alkohol secara rutin. Contohnya adalah pada spesimen bunga Raflessia.
Koleksi basah yang disimpan di Herbarium Bogoriense selalu terdapat koleksi keringnya. Namun untuk koleksi kering belum tentu disimpan koleksi basahnya.
Spesimen yang ada di Herbarium Bogoriense ini meliputi tanaman dari Malaysia, Asia, Australia dan Pasifik serta daerah lainnya. Spesimen ini terdapat dua kelompok yaitu kelompok khusus dan kelompok umum. Spesimen khusus ialah spesimen tipe, yaitu spesimen yang pertama kali diberi nama atau yang digunakan sebagai acuan dalam pemberian nama ilmiah yang disimpan dalam ruangan tersendiri. Sedangkan kelompok umum dapat dilakukan berdasarkan kelompok tumbuhan tersebut. Antara lain: kelompok dikotil, monokotil, gymnospermae, kriptogamae, dan tumbuhan paku.
Berdasarkan kegiatan tersebut Herbarium Bogoriense memiliki tujuan untuk pelestarian keanekaragaman alam yang dapat dinikmati oleh semua orang maupun generasi mendatang(5)
(5)dewangga™. Harmony of Art, Culture and Technology


TEMPAT KOLEKSI HERBARIUM
a.    Materi basah harus segera dikeluarkan dari kantongnya, kemudian dirapikan tumpukkannya dan bila perlu kertasnya diganti dengan kertas baru. Selanjutnya, tumpukkan material herbarium dipres di dalam sasak, kemudian dimasukkan ke dalam tungkupengeringan atau oven dengan suhu 80°C selama 48 jam.
b.   Material yang sudah kering diidentifikasi nama botaninya. Biasanya secara berturut – turut material tersebut termasuk suku apa, marga dan jenis apa.
Hasil identifikasi ini ditulis pada label identifikasi yang telah disiapkan. Dalam hal ini harus diperhatikan agar nomor koleksi yang ditulis pada label identifikasi sesuai dengan nomor koleksi pada label gantung.
c.    Materi herbarium yang telah diidentifikasi kemudian diawetkan dengan cara sebagai berikut:
-          Material dicelupkan ke dalam larutan sublimat, yakni campuran alcohol 96% dan tepung sublimatdengan perbandingan 50 gram sublimat dalam 1 liter alcohol.
Pada proses pengawetan ini dianjurkan agar digunakan sarung tangan dank ain kasa penutup hidung untuk menghindari cairan dan uap sublimat.
-          Material yang sudah dicelupkan (sekitar 2 menit) di dalam larutan sublimat dimasukkan ke dalam lipatan kertas Koran, kemudian beberapa material ditumpuk menjadi satu dan ditaruh diantara 2 sasak, lalu diikat kencang.
-          Sasak yang berisi material tersebut dimasukkan ke dalam tungku pengeringan dan dijemur sampai material menjadi kering.
-          Material yang telah kering inisiap untuk diproses lebih lanjut sebagai koleksi herbarium yang tahan terhadap serangan jamur maupun hama.
d.      Material herbarium kering kemudian diplak atau ditempelkan pada kertas gambar yang kaku dan telah disterilkan. Bersamaan dengan pengeplakkan dilakukan pula pemasangan label identifikasi yang tekah diisi. Dalam hal ini, perln diperhatikan agar tidak terjadi salah pasang antara label identifikasi dengan nomor koleksi herbarium yang bersangkutan(4)
(4)Teknik pembuatan herbarium (onrizal, prodi kehutanan,
 FP universitas Sumatra utara)

0 komentar:

Poskan Komentar